Nama KH Sholeh Darat mungkin terdengar asing bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, namun peran dan warisannya dalam sejarah pemikiran Islam di Nusantara tidak bisa diabaikan. Ulama asal Kedung Jumbleng, Mayong, Jepara ini tidak hanya dikenal sebagai guru para ulama besar, tetapi juga berpengaruh dalam perjalanan intelektual RA Kartini, tokoh emansipasi wanita yang telah membangkitkan kesadaran kebangsaan.
Siapakah KH Sholeh Darat?
KH Sholeh Darat, yang bernama asli Muhammad Sholeh bin Umar, adalah seorang ulama terkemuka dari abad ke-19 yang lahir di Jepara pada tahun 1820. Ia dikenal sebagai figur sentral dalam pendidikan Islam di wilayah Semarang dan sekitarnya, berkontribusi besar dalam menyebarkan ajaran Islam yang damai dan penuh toleransi. Kegigihannya dalam menyusun berbagai kitab dalam bahasa Jawa menunjukkan kegeniusannya dalam menjembatani ilmu agama untuk dipahami kaum pribumi.
Peran KH Sholeh Darat dalam Pendidikan Kartini
RA Kartini, dalam perjalanan intelektualnya, mendapatkan pencerahan agama melalui ajaran KH Sholeh Darat. Kartini menghormati KH Sholeh Darat sebagai guru spiritual yang mendorongnya memahami Islam dengan lebih mendalam. Melalui kitab-kitab yang disusun KH Sholeh Darat dalam bahasa Jawa, yang diterjemahkan dan disederhanakan sedemikian rupa agar kartini dapat membacanya dengan mudah, Kartini menemukan inspirasi untuk memperjuangkan hak pendidikan bagi kaum wanita.
Karya Monumental dalam Bahasa Jawa
Salah satu kontribusi terbesar KH Sholeh Darat adalah menyusun kitab tafsir Al-Qur’an dalam bahasa Jawa, dikenal dengan nama “Faidlur Rahman.” Kitab ini memberikan akses kepada masyarakat Jawa untuk memahami Al-Qur’an tanpa terkendala bahasa Arab. Usaha ini sekaligus menjadi upaya pembebasan intelektual dari kolonial yang saat itu memberlakukan kebijakan pembatasan akses pendidikan terhadap masyarakat lokal.
Jejak Spiritualitas dan Toleransi
KH Sholeh Darat tidak hanya dikenal di Semarang, tetapi pengaruhnya merambah hingga ke berbagai pelosok di Nusantara. Sikapnya yang moderat dan penuh toleransi menjadi teladan bagi para santri yang belajar kepadanya. Rekam jejaknya mencerminkan esensi ajaran Islam yang mengedepankan perdamaian dan persaudaraan, menjadikan dirinya sosok yang dihormati lintas generasi.
Analisis dan Pengaruh KH Sholeh Darat
Dalam pandangan saya, KH Sholeh Darat berhasil meretas sekat-sekat bahasa dan budaya dalam menyebarkan ajaran Islam. Relevansi ajaran yang dia tawarkan tidak hanya signifikan pada zamannya, namun masih relevan sampai sekarang sebagai inspirasi keberagamaan inklusif. Dedikasinya untuk membumikan pemahaman agama bagi masyarakat lokal memperlihatkan visi yang jauh ke depan, sejajar dengan tokoh-tokoh reformis dunia lainnya.
Mewariskan semangat belajar dan keterbukaan, KH Sholeh Darat seharusnya mendapatkan apresiasi yang lebih luas sebagai peletak dasar dialog antaragama dan tokoh pemersatu bangsa. Kesederhanaan dakwahnya yang inklusif mampu menyentuh berbagai kalangan, tidak hanya umat Islam, tetapi juga kaum non-muslim, hal ini menunjukkan kuatnya karakter pluralisme dalam ajaran-ajarannya.
Kesimpulan: Sebuah Warisan Abadi
Dalam kesimpulannya, KH Sholeh Darat tidak hanya menjadi pengajar bagi ulama-ulama besar, tetapi juga memberi fondasi spiritual kepada Kartini, yang kemudian menyulut perjuangan hak perempuan di Indonesia. Menelusuri jejaknya adalah menyelami kekayaan pemikiran yang menawarkan banyak pelajaran berharga untuk masa kini. Sejarahnya seharusnya menggugah kesadaran generasi sekarang untuk melestarikan pluralisme, toleransi, dan semangat pembelajaran sepanjang hayat yang menjadi ciri khasnya. Warisannya adalah bagian integral dari narasi besar sejarah kebangkitan kesadaran intelektual dan sosial di Indonesia.
