Masjidku.id – Suparman Marzuki dengan gelar Profesor Hak Asasi Manusia memberikan gambaran seorang cendekiawan yang berani memadukan teori dan praksis.
Dalam dunia akademis, prestasi baru saja di torehkan oleh mantan Ketua Komisi Yudisial, Suparman Marzuki. Perjalanan panjangnya dalam bidang hukum kini berbuah manis setelah ia resmi menyandang gelar Profesor Hak Asasi Manusia di Universitas Islam Indonesia (UII). Pengangkatan ini bukan sekedar penegasan atas kecakapannya sebagai cendekiawan, tetapi juga simbol dari dedikasi panjang untuk memperjuangkan prinsip keadilan yang membumi.
Perjalanan Karir yang Gemilang
Suparman Marzuki memulai karirnya dengan komitmen kuat dalam dunia hukum dan HAM. Sebagai Ketua Komisi Yudisial periode lalu, beliau di kenal karena upayanya mengawal integritas dan independensi dari lembaga peradilan di Indonesia. Posisi ini telah memberinya pemahaman mendalam mengenai tantangan dan peluang dalam penegakan HAM di Indonesia. Pengalaman tersebut semakin memperkaya wawasan akademisnya, menjadikan laluan karirnya penuh makna dan kontribusi nyata bagi sistem hukum nasional.
Komitmen Terhadap Keadilan
Dalam pidato pengangkatannya, Suparman Marzuki menegaskan pentingnya tanggung jawab moral bagi para akademisi. Menurutnya, mereka tidak hanya harus berdiam diri di menara gading, tetapi wajib terjun langsung dalam pembelaan keadilan. Penekanan ini menunjukkan bahwa gelar profesor yang ia sandang bukan sekedar simbol, melainkan amanah untuk terus berjuang menciptakan sistem yang lebih adil dan memastikan hak asasi setiap individu di hormati.
Pendekatan Akademis yang Inklusif
Suparman di kenal sebagai seorang pendidik yang mampu menyentuh isu-isu kompleks dengan pendekatan yang inklusif. Metodologi pengajaran yang ia terapkan seringkali mengajak mahasiswa untuk berpikir kritis dan berani mengambil posisi demi keadilan. Dalam konteks Indonesia yang sarat tantangan HAM, pendekatan ini di harapkan dapat menghasilkan generasi baru yang lebih peka terhadap isu-isu kemanusiaan, sehingga pola pikir mereka bisa menembus batas teori menuju implementasi nyata.
Pengaruh Positif bagi UII
Kehadiran seorang tokoh seperti Suparman Marzuki di UII tentu memberikan dampak positif, baik bagi institusi maupun bagi para mahasiswanya. Dengan gelar profesor yang di sandangnya, UII berkesempatan untuk memperkuat reputasi serta memperkaya kurikulum yang di tawarkan. Lebih dari itu, Suparman memberikan harapan baru bagi mahasiswa untuk terinspirasi dan di bekali lebih dalam mengenai dasar-dasar Hak Asasi Manusia.
Pandangan Pribadi terhadap Tanggung Jawab Sosial
Bagi Suparman, gelar profesor yang di berikan kepadanya merupakan sebuah capaian yang perlu di imbang dengan dedikasi pada tanggung jawab sosial. Ia percaya bahwa seorang akademisi harus berdiri di garda depan dalam menerapkan nilai-nilai keadilan dan kemanusiaan di masyarakat. Komitmen ini menunjukkan bahwa kiprah akademik bukan hanya soal teori, melainkan harus memberi dampak nyata dalam kehidupan sosial. Sebuah prinsip yang sangat dibutuhkan di masa kini ketika tantangan terhadap HAM semakin marak ditemui di berbagai belahan dunia.
Sebagai kesimpulan, Suparman Marzuki dengan gelar Profesor Hak Asasi Manusia memberikan gambaran seorang cendekiawan yang berani memadukan teori dan praksis. Ia bukan hanya berkontribusi melalui pemikiran kritis yang dihasilkan, tetapi juga membawa pengaruh nyata dalam pembelaan terhadap hak asasi. Penetapannya sebagai profesor di UII memberi contoh betapa pihak akademisi memiliki peran signifikan dalam membentuk kesadaran masyarakat akan pentingnya keadilan. Dengan latar belakang dan visi ke depan yang ia miliki, Suparman layak disebut sebagai pemegang obor keadilan dalam dunia akademis dan beyond.
