OIC menyambut perjanjian AS-Iran hasil mediasi Pakistan dan Qatar; diharapkan dapat dipraktikkan penuh untuk jaga keamanan regional.
Pertubuhan Kerjasama Islam (OIC) menyambut baik perjanjian AS-Iran yang dilaporkan mencapai kesepakatan untuk mengakhiri konflik dan memulihkan kebebasan pelayaran di Selat Hormuz. Pernyataan organisasi yang berkedudukan di Jeddah itu memuji proses diplomasi yang memungkinkan tercapainya Memorandum Persefahaman (MoU) tersebut.

Dalam rilis resminya, OIC menaruh harapan agar isi perjanjian ini dapat membawa stabilitas di kawasan dan diimplementasikan secara menyeluruh. Pernyataan tersebut juga memberi catatan atas peran aktor pihak ketiga yang memfasilitasi dialog Washington dan Tehran.
Reaksi OIC dan harapan pelaksanaan
OIC menilai MoU Amerika Serikat dan Iran sebagai langkah positif untuk mengurangi ketegangan yang berdampak pada keamanan maritim di Selat Hormuz. Organisasi itu secara khusus mengapresiasi dukungan dan upaya beberapa negara yang membantu mempersempit jurang perbedaan sehingga terciptanya kondisi yang kondusif bagi tercapainya kesepakatan.
Dalam pernyataannya, OIC menegaskan harapannya agar perjanjian ini “dapat dilaksanakan sepenuhnya dan pihak-pihak berkepentingan akan mengambil bahagian secara serius dalam pusingan rundingan akan datang bagi menangani semua isu serta mengekalkan keselamatan dan kestabilan di rantau ini.” Pernyataan ini menandai dorongan organisasi untuk memastikan langkah-langkah yang disepakati bukan hanya di atas kertas, melainkan juga diwujudkan secara nyata.
Peran Pakistan dan Qatar dalam proses mediasi
Organisasi itu memberi pengakuan khusus kepada Pakistan dan Qatar, serta beberapa negara lain yang turut berperan sebagai per. Upaya mediasi tersebut dinilai krusial dalam meredakan ketegangan antar pihak dan membuka ruang bagi rundingan intensif yang akhirnya melahirkan MoU.
Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, yang memimpin inisiatif pengan, mengumumkan pada awal Isnin bahwa kedua negara—Amerika Syarikat dan Iran—telah mencapai persetujuan susulan rundingan intensif. Dalam pengumuman itu juga disebutkan bahwa kedua pihak sama-sama menyatakan adanya “penamatan segera dan kekal terhadap operasi ketenteraan di semua barisan hadapan, termasuk di Lubnan.”
Langkah berikutnya dan penandatanganan
Sesuai pengumuman, dokumen kesepakatan dijadwalkan untuk ditandatangani di Switzerland pada Jumaat ini. Penandatanganan tersebut menjadi tahap formal berikutnya setelah serangkaian rundingan yang intensif dan merupakan momen krusial untuk melihat komitmen politik serta teknis kedua belah pihak.
Meski rincian lengkap isi MoU tidak dibuka secara menyeluruh dalam pernyataan publik OIC, fokus utamanya tercatat pada penghentian operasi militer lintas garis depan dan upaya pemulihan kebebasan navigasi di perairan strategis. Para pemangku kepentingan regional dan internasional diharapkan hadir dan berpartisipasi dalam putaran-negosiasi lanjutan untuk menangani isu yang tersisa.
Respons OIC mencerminkan dorongan komunitas internasional terhadap penyelesaian konflik melalui jalur diplomasi dan mediasi. Dengan dukungan per seperti Pakistan dan Qatar, serta komitmen yang dinyatakan oleh AS dan Iran, perhatian kini beralih pada implementasi teknis dan verifikasi agar gencatan dan kesepakatan yang disepakati dapat memelihara keamanan serta stabilitas di kawasan yang terkena dampak.
