Imran Ajmain mengajak pelaku nasyid 'ubah visual nasyid' dan perbaharui strategi promosi tanpa mengubah pakaian dan lagu.
Ubah visual nasyid menjadi perhatian dalam kabar terbaru ini. Petaling Jaya, 2 Agustus 2026 — Imran Ajmain atau Ahmad Imranullah Ahmad Husaini Ajmain, 45, menyerukan agar para penggiat nasyid memfokuskan pembaharuan pada aspek visual dan cara promosi. Imran menilai bahwa penampilan visual yang segar lebih efektif untuk menjangkau audiens masa kini tanpa mengubah pakaian atau lirik lagu nasyid itu sendiri.

“Ubah visual, bukan pakaian dan lagu nasyid,” kata Imran, menekankan agar elemen yang bersifat pembungkus dan strategi pemasaran disesuaikan dengan perkembangan selera dan platform baru. Pernyataan ini menggarisbawahi pandangannya bahwa inti nasyid — baik dari sisi pesan maupun busana tradisional — dapat dipertahankan sambil memperbarui cara karya tersebut dipersepsikan publik.
Mengapa visual perlu disegarkan
Imran melihat bahwa citra nasyid selama ini kerap menggambarkan latar masjid, pemakaian berkopiah, dan panorama alam. Menurutnya, pengulangan visual semacam itu tidak selalu cukup efektif untuk menarik perhatian generasi muda yang terbiasa dengan format konten modern dan dinamis. Dengan memperbaharui pendekatan visual—misalnya dalam video musik, desain cover, dan materi promosi—karya nasyid bisa lebih mudah diterima oleh penonton yang lebih luas tanpa mengorbankan nilai-nilai yang dibawanya.
Strategi promosi yang lebih segar
Selain aspek visual, Imran juga menyoroti pentingnya strategi promosi yang lebih kreatif. Pendekatan yang relevan dengan platform digital dan kebiasaan konsumsi konten audiens masa kini menjadi faktor utama agar pesan nasyid tetap hidup dan dapat bersaing. Imran menyarankan para penggiat nasyid mempertimbangkan cara-cara baru dalam penyajian dan distribusi, sambil tetap menjaga esensi lirik dan busana tradisional yang melekat pada genre tersebut.
Titik keseimbangan tradisi dan pembaharuan
Pendekatan yang diusulkan Imran menekankan keseimbangan: mempertahankan identitas tradisional nasyid sekaligus melakukan pembaharuan pada lapisan estetika dan pemasaran. Menurutnya, perubahan visual tidak sama dengan mengubah substansi lagu atau identitas budaya penyanyi nasyid. Dengan demikian, genre ini tetap dapat mempertahankan pesan keagamaan dan nilai-nilai budaya sambil tampil relevan di mata audiens konrer.
Imran juga menaruh perhatian pada pentingnya perencanaan yang matang agar pembaharuan visual tidak menimbulkan persepsi bahwa karya tersebut kehilangan otentisitas. Pendekatan bertahap dan melibatkan pelaku industri serta komunitas pendengar dapat membantu menemukan arah visual dan promosi yang tepat.
Dalam pandangan Imran, upaya memperbarui visual dan strategi promosi merupakan langkah praktis yang memungkinkan nasyid menjangkau generasi yang tumbuh dengan konsumsi konten yang serba cepat dan beragam. Ia menegaskan kembali pesan utamanya: perubahan tampilan dan pendekatan pemasaran bisa membuka kesempatan baru tanpa harus mengubah pakaian atau lirik yang menjadi identitas genre tersebut.
Perbincangan yang lebih luas mengenai pembaharuan visual dan strategi promosi di kalangan pelaku nasyid berpeluang mendorong inovasi sambil tetap menjaga kearifan lokal dan nilai-nilai religius yang menjadi dasar genre ini. Imran menutup pesannya dengan ajakan agar perubahan dilakukan dengan niat memperkaya dan melestarikan, bukan menggantikan, warisan musik nasyid.
