Bedah buku Marhaenisme Gen-Z di Museum Multatuli hadirkan Bonnie Triyana, membahas relevansi gagasan Soekarno untuk tantangan sosial, ekonomi, dan politik.
Masjidku.id – Marhaenisme gen-z menjadi perhatian dalam kabar terbaru ini. Rangkasbitung, Sabtu (11/7) menjadi lokasi peluncuran diskusi buku bertajuk Marhaenisme: Dalil Baru untuk Gen-Z yang digelar di Museum Multatuli. Acara itu menghadirkan Bonnie Triyana, anggota Komisi X DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, sebagai pembicara utama dengan tujuan mendorong generasi muda kembali menghidupkan ruang-ruang diskusi publik.

Dalam pertemuan tersebut, buku yang ditulis Airlangga Pribadi dan Rocky Gerung dipaparkan sebagai sebuah tafsir baru terhadap Marhaenisme, gagasan yang pernah digagas Presiden pertama RI Soekarno. Bonnie menilai interpretasi baru ini relevan untuk menanggapi berbagai tantangan sosial, ekonomi, dan politik masa kini.
Detail acara dan tujuan diskusi
Acara bedah buku di Museum Multatuli ini menempatkan Marhaenisme sebagai topik sentral untuk mengajak generasi muda berpikir kritis tentang kondisi konrer. Menurut penyelenggara, kegiatan tersebut tidak sekadar membahas teks buku, melainkan juga berupaya mengembalikan praktik ruang publik di mana gagasan dan persoalan kebangsaan dapat diperdebatkan secara terbuka.
Interpretasi baru Marhaenisme untuk generasi muda
Bonnie Triyana menyampaikan bahwa karya Airlangga Pribadi dan Rocky Gerung menawarkan sudut pandang baru terhadap prinsip-prinsip Marhaenisme. Ia menilai penafsiran ulang ini membantu menempatkan nilai-nilai yang pernah digaungkan Soekarno dalam konteks persoalan zaman sekarang, sehingga bisa menjadi landasan berpikir bagi Gen Z dalam menghadapi dinamika sosial dan ekonomi.
Menghidupkan kembali ruang diskusi publik
Salah satu tujuan utama acara adalah memulihkan praktik berdiskusi di muka publik, khususnya di kalangan anak muda. Bonnie menekankan pentingnya dialog terbuka sebagai mekanisme kritis untuk mencari solusi dan merumuskan strategi kolektif menghadapi persoalan sehari-hari. Bedah buku seperti ini dimaksudkan untuk memberi wadah bagi generasi muda agar tidak hanya menjadi konsumen informasi, tetapi juga partisipan aktif dalam wacana kebangsaan.
Relevansi terhadap tantangan konrer
Dalam sesi diskusi, peserta diajak mempertimbangkan bagaimana ide-ide yang bersumber dari Marhaenisme dapat diaplikasikan atau disesuaikan dengan masalah yang muncul kini, baik di bidang sosial, ekonomi, maupun politik. Bonnie menegaskan bahwa pembacaan ulang atas konsep-konsep lama diperlukan supaya gagasan-gagasan dasar kebangsaan tidak kehilangan daya jawabnya terhadap isu-isu aktual.
Pelaksanaan bedah buku ini di Museum Multatuli menjadi salah satu upaya mempertemukan narasi intelektual lama dengan gairah berpikir generasi muda. Dengan menempatkan Marhaenisme dalam konteks Gen Z, pembicara dan penyusun buku berharap gagasan tersebut bisa terus dipertimbangkan dalam diskursus publik sebagai salah satu alternatif pendekatan untuk menghadapi tantangan masa kini.
